Sepenggal Cerita tentang Pertemuan dengan
Incredible-Dhila dan Super-Hera
#3: Tentang Usaha Menjadi Beda
Untuk pemuda pemudi yang mengaku bertanah air, berbangsa, dan berbahasa, Indonesia pasti tidak asing dengan peribahasa ‘Di Mana Bumi Dipijak, Di Situ Langit Dijunjung’. (kesesuain peribahasa dengan cerita di bawah ini masih dalam proses penyelidikan)
Ya, menjadi berbeda dari kita apa adanya adalah suatu keniscayaan dan memang begitulah kebutuhannya sebagai zoon politicon. Terlalu kaku dengan standard yang kita bangun untuk diri kita sendiri, berpeluang besar untuk memperkecil lingkup sosialisasi kita. Oleh karena itu, sebagai Anak Gaul, peribahasa di atas sebisa mungkin ditempatkan di tumpukan teratas slogan-slogan lainnya.
Tidak seperti menuliskannya, implementasi peribahasa ini ke kehidupan sehari-hari jauh lebih berat. Jadi begini:
Hijrah dari Medan ke Depok adalah satu-satunya pilihan yang harus diambil ketika memutuskan untuk melanjukan studi, 2009 lalu. Tidak banyak yang berbeda sebenarnya, sampai akhirnya bertemu dengan yang namanya Nufadhila Anwar a.k.a Dhila dan Heranisty Nasution a.k.a Hera.
Pasalnya begini, dalam lingkungan pertemanan dan sekolah, sudah terbiasa masuk nominasi teman termuda atau murid termuda (jangan terkecoh dengan istilah nominasi. Ini tidak pernah diperlombakan teman-teman). Bahkan, memanggil kakak ke beberapa teman seangkatan karena berumur cukup ‘tua’ untuk dipanggil kakak adalah suatu hal biasa. Pun, di rumah menjadi anak perempuan termuda dengan satu adik lelaki tidak membuat jiwa ke-kakak-an tumbuh dan berkembang dengan subur. Begitu pun di lingkungan kerja, hanya satu orang yang berhasil mengalahkan kemudaan saya. (ciieeeeeee…….#gapenting.com)
Sampai hari itu datang, bumi Depok menjelma beda dan langitnya pun menitahkan kalau saya harus menjadi Kakak untuk dua orang super ini. Menjadi super di antara kesuperan mereka bukanlah hal mudah. Menjaga selama ini yang tidak terjaga, menutup selama ini yang terbuka, membuka yang selama ini tertutup, mencari yang selama ini tersembunyi - dan lain-lain yang kontradiktif- adalah serangkaian perubahan yang harus diupayakan hanya untuk sebuah peran yang disebut KAKAK.
Ini benar-benar beda, bagaimana tidak?
Kebanyakan kita lebih menjaga citra diri ketika berada di luar. Tapi aku, bagaimana ya? Apa harus melakukan itu ketika kembali ke kosan? Aku kan kakak-kakak gitu lhoo… (oke, diusahakan. Aku membatin)
Rencananya begini:
Ketika mereka meminta saran, tidak boleh seenak jidat karena sebagai seorang kakak patutnya bisa lebih bijak;
Ketika mereka mengajak ngobrol, harus bisa mengimbangi karena mereka mungkin memperhatikan setiap kata yang ku ucapkan;
ketika mereka curhat, harus bisa memperlihatkan empati karena sebagai adik mereka lebih butuh perhatian;
ketika mereka berucap terserah, harus bisa memberi pilihan karena sebagai kakak seyogianya bisa memberi jalan.
(oke cukup..daftar ini bisa lebih panjang lagi dan bisa berlaku sebaliknya kurasa)
Dan begitulah hari-hari berlalu di Puri Laksmi.
Hari-hari dijalani sembari berusaha untuk saling memahami. Kalau tidak, pagi-pagi bisa dapat ‘sms cinta’ dari Dhila bahkan sebelum ruh kembali seutuhnya ke raga. Atau, tidak mendapati ekspresi ‘gak apa-apa’ di wajah Hera -itu pertanda buruk à lumayan seram- yang biasanya hanya senyam-senyum atau asyik sms-an dengan para penggemarnya, tiba-tiba menjadi serius. Ahh..jangan sampai deh.
Menjadi Kakak bagi mereka itu sesuatu banget (Syahrini, 2011), membuat banyak belajar dan lebih paham ketika Imam Syafi’i melalui tulisannya bertutur:
Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan mendapatkan pengganti kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Dear, Imam Syafi’i
Aku sudah merantau dan aku sudah mendapat pengganti untuk keluarga dan kawan yang kupanggil dengan Dik Dhila dan Dik Hera. (InsyaAllah)
Meski belum cukup lelah berusaha menjadi kakak bagi mereka, tapi manisnya sudah terasa karena mereka pun sesungguhnya (aku yakin) berlelah-lelah untuk memahamiku yang sedang berusaha memahami mereka.
Demikianlah cerita ini, tentang usaha menjadi beda. (end)
p.s.:
Kata-kata tidak pernah cukup untuk menggambarkan kenyataan. Karenanya, membaca itu tidak akan sempurna tanpa pemahaman. Begitu pun cerita ini digambarkan dengan deretan kata-kata yang cukup panjang, tetap ada kurangnya dan banyak lebihnya a.k.a Lebay. Coba pahami saja..
LoVe,
Kak Ite :)
